Senin, 10 Februari 2014

Wahai Pemuda, Pahami Sejarah Supaya Tidak Salah Langkah

(Sebuah Tinjauan Kritis Atas Budaya Valentine Yang Kini Marak Ditengah-tengah Kehidupan Kita)


Kebanyakan orang sudah tidak peduli lagi akan sejarah. Bagi mereka sejarah adalah masa lalu yang telah lewat dan tidak perlu diingat-ingat lagi.
Namun, tahukah Anda orang-orang besar di dunia ini begitu menghargai sejarah dan mengajak kita untuk bisa memahami dan mengambil hikmah terdalam dari sejarah. Sebagai contoh the founding father Indonesia, Ir. Ahmad Soekarno. Dalam sebuah kesempatan beliau mengatakan “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”  atau disingkat ‘Jasmerah’. Kemudian seorang filsuf dan penyair Spanyol-Amerika  George Santayana (1863-1952) mengatakan “Mereka yang tidak mengambil pelajaran dari sejarah, maka mereka ditakdirkan untuk mengulanginya”.
Lalu, bagaimana Islam dalam memandang sejarah? Berkenaan dengan sejarah, Allah SWT berfirman : 
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. 3:137)
“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (QS. 48:23)
                  Dengan demikian, sejarah akan selalu berulang dari waktu ke waktu. Hanya tempat, waktu, pelaku dan bentuknya saja yang berubah.
Sehingga, mengenali dan memahami sejarah adalah suatu hal yang sangat bijak. Dengan memahaminya kita tidak akan terjerumus pada jalan yang salah sebagaimana para pendahulu kita pernah melakukannya. Dengan memahaminya kita bisa pula merancang langkah-langkah yang terbaik untuk pencapaian harapan dan cita-cita kita di masa yang akan datang.
Kejadian di masa sekarang adalah akibat perbuatan kita di masa yang lalu. Maka, sesuatu yang buruk walaupun sejengkal apabila tidak kita perbaiki dari sekarang akan menjadi masalah yang besar di masa yang akan datang. Dan semakin tahun akan semakin besar akumulasi permasalahannya. Maka, dengan memahami sejarah, kita tidak akan terjebak dalam permasalahan yang sama untuk kedua kalinya.
 Sebagai contoh, maraknya perayaan hari valentine yang rutin dirayakan setiap tahun oleh muda-mudi kita diberbagai penjuru nusantara hingga hari ini.


Bagi muda mudi kita, valentine atau biasa disebut hari kasih sayang merupakan salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu. Pada hari itu, berbagai cara dilakukan oleh anak-anak muda untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kepada pasangannya.
Pada mulanya, tradisi valentine adalah tradisi yang lazim dirayakan setiap tahunnya di benua Eropa. Namun, lama kelamaan tradisi ini menjadi tradisi dunia. Hal ini akibat gencarnya mass media dalam mempopulerkannya, apalagi benua Eropa sejak kebangkitannya di abad ke 12 hingga berabad-abad kini telah ditahbiskan oleh dunia sebagai kiblat peradaban dunia. Maka tidak heran dengan mudahnya budaya dan gaya hidup bangsa Eropa ditiru oleh bangsa lain. Tidak terkecuali bangsa Indonesia.


Sebagai bangsa besar yang dikenal memiliki budaya yang santun dan islami marilah kita didik generasi-generasi muda kita untuk tidak gampang menjiplak budaya bangsa lain. Kita berikan mereka bekal yang cukup sehingga memiliki kemampuan untuk memfilter budaya-budaya yang datang deras di era globalisasi ini. Meniru-niru apalagi hal yang baik sebenarnya sah-sah saja, namun meniru-niru sesuatu yang tidak jelas adalah suatu hal yang penuh resiko dan harus kita tinggalkan.
Budaya valentine dalam satu dekade ini telah menjadi hal yang lumrah dirayakan oleh muda-mudi kita. Pada mulanya ungkapan kasih sayang dalam tradisi valentine dilakukan dengan memberikan seikat bunga atau sebatang cokelat kepada orang yang dikasihi/pacar (istilah jaman sekarang). Kemudian, tradisi ini berkembang lebih jauh lagi hingga mengarah kepada perbuatan mesum dan zina yang jalas-jelas dilarang oleh Islam. Sehingga, secara tidak langsung budaya ini melegalkan pacaran yang pada prinsipnya bertentangan dengan ajaran Islam.
Kebanyakan muda-mudi kita mengikuti tradisi valentine karena ikut-ikutan saja. Jarang dari mereka yang mengetahui latar belakang sejarah munculnya budaya valentine yang kini telah mendunia ini. Padahal, memahami sejarah adalah hal yang sangat penting. Dengan memahaminya, kita akan mengetahui kearifan di dalamnya sehingga kita bisa menentukan benar tidaknya perbuatan-perbuatan yang kita lakukan serta buah dari perbuatan itu karena secara jujur sejarah umat manusia telah mencatat kehidupan para pendahulu kita di masa yang lalu.
 Berikut ini sejarah budaya valentine dari berbagai versi. Semoga kita semua bisa mengambil hikmah pelajaran di dalamnya.
  1. Versi 1
Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.
  1. Versi 2
Peringatan asal muasal bangsa romawi yang didirikan oleh Romulus. Romulus diyakini disusui oleh serigala betina. Maka setiap pertengahan Pebruari diadakan ritual penyembelihan seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda.
  1. Versi 3
Tanggal 14 Pebruari adalah tanggal dihukum matinya Santo Valentinus yang telah menentang peraturan Raja Claudius II yang memerintah pada abad ke 3 masehi. Raja Claudius II membuat aturan yang melarang bala tentaranya untuk menikah. Sebagai pendeta, Santo Valentinus nekad menikahkan pemuda dan pemudi yang telah jatuh cinta. Hal ini mengakibatkan dihukum matinya Santo Valentinus di tempat pemancungan. Berdasarkan peristiwa ini, beberapa ahli sejarah meyakini hari valentine yang jatuh tiap tanggal 14 Pebruari diperingati dalam rangka menghormati pendeta Santo Valentinus.

Demikian beberapa versi sejarah yang mengkisahkan asal muasal peringatan tanggal 14 pebruari sebagai hari valentine (hari kasih sayang). Semoga kita semua bisa mengambil hikmah di dalamnya yang merupakan bagian dari kearifan sejarah sehingga kita tidak salah langkah dan salah kaprah dalam menjalani kehidupan ini. Semoga kita semua dan generasi kita selalu mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari Allah SWT. Amiin.

Penulis : Achmad Sirojudin, ST (Ketua Yayasan Sosial Bina Umat Al Mu’thi Madura)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar