(Sebuah Tinjauan Kritis Atas Budaya Valentine Yang Kini Marak Ditengah-tengah Kehidupan Kita)
Kebanyakan orang sudah tidak peduli lagi akan
sejarah. Bagi mereka sejarah adalah masa lalu yang telah lewat dan tidak perlu
diingat-ingat lagi.
Namun, tahukah Anda orang-orang besar di dunia ini
begitu menghargai sejarah dan mengajak kita untuk bisa memahami dan mengambil
hikmah terdalam dari sejarah. Sebagai contoh the founding father Indonesia, Ir.
Ahmad Soekarno. Dalam sebuah kesempatan beliau mengatakan “Jangan sekali-kali
meninggalkan sejarah” atau disingkat
‘Jasmerah’. Kemudian seorang filsuf dan penyair Spanyol-Amerika George Santayana (1863-1952) mengatakan “Mereka
yang tidak mengambil pelajaran dari sejarah, maka mereka ditakdirkan untuk
mengulanginya”.
Lalu, bagaimana Islam dalam memandang sejarah?
Berkenaan dengan sejarah, Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena
itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat
orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. 3:137)
“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu
sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (QS. 48:23)
Sehingga, mengenali dan memahami sejarah adalah
suatu hal yang sangat bijak. Dengan memahaminya kita tidak akan terjerumus pada
jalan yang salah sebagaimana para pendahulu kita pernah melakukannya. Dengan
memahaminya kita bisa pula merancang langkah-langkah yang terbaik untuk
pencapaian harapan dan cita-cita kita di masa yang akan datang.
Kejadian di masa sekarang adalah akibat perbuatan
kita di masa yang lalu. Maka, sesuatu yang buruk walaupun sejengkal apabila
tidak kita perbaiki dari sekarang akan menjadi masalah yang besar di masa yang
akan datang. Dan semakin tahun akan semakin besar akumulasi permasalahannya.
Maka, dengan memahami sejarah, kita tidak akan terjebak dalam permasalahan yang
sama untuk kedua kalinya.
Sebagai
contoh, maraknya perayaan hari valentine yang rutin dirayakan setiap tahun oleh
muda-mudi kita diberbagai penjuru nusantara hingga hari ini.
Bagi muda mudi kita, valentine atau biasa disebut
hari kasih sayang merupakan salah satu hari yang paling ditunggu-tunggu. Pada
hari itu, berbagai cara dilakukan oleh anak-anak muda untuk mengungkapkan rasa
kasih sayang kepada pasangannya.
Pada mulanya, tradisi valentine adalah tradisi yang
lazim dirayakan setiap tahunnya di benua Eropa. Namun, lama kelamaan tradisi
ini menjadi tradisi dunia. Hal ini akibat gencarnya mass media dalam
mempopulerkannya, apalagi benua Eropa sejak kebangkitannya di abad ke 12 hingga
berabad-abad kini telah ditahbiskan oleh dunia sebagai kiblat peradaban dunia.
Maka tidak heran dengan mudahnya budaya dan gaya hidup bangsa Eropa ditiru oleh
bangsa lain. Tidak terkecuali bangsa Indonesia.
Sebagai bangsa besar yang dikenal memiliki budaya
yang santun dan islami marilah kita didik generasi-generasi muda kita untuk
tidak gampang menjiplak budaya bangsa lain. Kita berikan mereka bekal yang
cukup sehingga memiliki kemampuan untuk memfilter budaya-budaya yang datang
deras di era globalisasi ini. Meniru-niru apalagi hal yang baik sebenarnya
sah-sah saja, namun meniru-niru sesuatu yang tidak jelas adalah suatu hal yang
penuh resiko dan harus kita tinggalkan.
Budaya valentine dalam satu dekade ini telah
menjadi hal yang lumrah dirayakan oleh muda-mudi kita. Pada mulanya ungkapan
kasih sayang dalam tradisi valentine dilakukan dengan memberikan seikat bunga
atau sebatang cokelat kepada orang yang dikasihi/pacar (istilah jaman
sekarang). Kemudian, tradisi ini berkembang lebih jauh lagi hingga mengarah
kepada perbuatan mesum dan zina yang jalas-jelas dilarang oleh Islam. Sehingga,
secara tidak langsung budaya ini melegalkan pacaran yang pada prinsipnya
bertentangan dengan ajaran Islam.
Kebanyakan muda-mudi kita mengikuti tradisi
valentine karena ikut-ikutan saja. Jarang dari mereka yang mengetahui latar
belakang sejarah munculnya budaya valentine yang kini telah mendunia ini.
Padahal, memahami sejarah adalah hal yang sangat penting. Dengan memahaminya,
kita akan mengetahui kearifan di dalamnya sehingga kita bisa menentukan benar
tidaknya perbuatan-perbuatan yang kita lakukan serta buah dari perbuatan itu
karena secara jujur sejarah umat manusia telah mencatat kehidupan para
pendahulu kita di masa yang lalu.
Berikut ini
sejarah budaya valentine dari berbagai versi. Semoga kita semua bisa mengambil
hikmah pelajaran di dalamnya.
- Versi 1
Menurut tarikh
kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan
Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa
Zeus dan Hera. Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah
perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan
berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus
meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur,
mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit
domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah
mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.
- Versi 2
Peringatan asal
muasal bangsa romawi yang didirikan oleh Romulus. Romulus diyakini disusui oleh
serigala betina. Maka setiap pertengahan Pebruari diadakan ritual penyembelihan
seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda.
- Versi 3
Tanggal 14
Pebruari adalah tanggal dihukum matinya Santo Valentinus yang telah menentang
peraturan Raja Claudius II yang memerintah pada abad ke 3 masehi. Raja Claudius
II membuat aturan yang melarang bala tentaranya untuk menikah. Sebagai pendeta,
Santo Valentinus nekad menikahkan pemuda dan pemudi yang telah jatuh cinta. Hal
ini mengakibatkan dihukum matinya Santo Valentinus di tempat pemancungan.
Berdasarkan peristiwa ini, beberapa ahli sejarah meyakini hari valentine yang
jatuh tiap tanggal 14 Pebruari diperingati dalam rangka menghormati pendeta
Santo Valentinus.
Demikian beberapa
versi sejarah yang mengkisahkan asal muasal peringatan tanggal 14 pebruari
sebagai hari valentine (hari kasih sayang). Semoga kita semua bisa mengambil
hikmah di dalamnya yang merupakan bagian dari kearifan sejarah sehingga kita
tidak salah langkah dan salah kaprah dalam menjalani kehidupan ini. Semoga kita
semua dan generasi kita selalu mendapatkan pertolongan dan perlindungan dari
Allah SWT. Amiin.
Penulis : Achmad Sirojudin, ST (Ketua Yayasan Sosial Bina Umat Al Mu’thi Madura)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar